“Ayah, apakah
makna kebahagiaan…?”, tanya rafi, seorang anak umur 4 tahun yang mencoba memahami cerita dan nasehat sang
ayah dengan kemampuannya, yang pada saat itu sedang bercerita tentang temannya
yang telah sukses dalam berbisnis dan hidup bahagia bersama keluarganya. Sang
ayah sedikit mengernyitkan dahi dan mencoba mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan
anaknya yang masih kecil tersebut. “Rafi, kebahagiaan adalah sesuatu yang sulit
untuk dilihat, tetapi dapat dirasakan, tidak hanya untuk orang kaya dan berada
namun untuk semua orang yang mempunyai rasa syukur dihatinya”. Jawab sang ayah
dengan bijak. “lalu syukur itu apa ayah…?” tanya rafi kecil penasaran. “syukur
itu, klo kita diberi sesuatu oleh Tuhan Yang Maha Esa maka kita harus berterima
kasih kepada Tuhan. Kita mengucap hamdalah, lalu kita gunakan sesutu itu dengan
baik dan benar, misalnya untuk menolong saudara, membantu teman dan sebagainya”.
Jawab sang ayah mencoba menjelaskan secara ringan. “ooo… gitu ya yah” jawab
rafi kecil. Rafi lalu mengangguk-angguk tanda setuju dengan jawaban sang ayah
seakan mengerti. Rafipun lalu melanjutkan bertanya kepada sang ayah dengan
pertanyaan-pertanyaan ringan sambil menikmati pemandangan disekitar pantai Nusa
Dua Bali. Jam tangan sang ayah menunjukkan pukul 10 malam, lalu sang ayah
mengajak anaknya tersebut untuk memasuki salah satu kamar di The pirates bay.
Pagipun
menjelang, ayah, bunda dan rafi kemudian tidak menyia-nyiakan waktunya untuk
menikmati indahnya pemandangan pagi di pantai Nusa Dua Bali. Merekapun tidak
melewatkan berjalan-jalan disekitar The Bay Bali. Sesekali rafi bertanya kepada
sang ayah tentang keadaan sekitar, tentang perilaku orang yang ditemui dan
barang-barang yang ia lihat sepanjang perjalanan.
“Oleh-oleh…..oleh-oleh,
mainan untuk anaknya den..” Seorang nenek berjalan mengikuti keluarga kecil
tersebut dengan menyodorkan mainan anak-anak yang terbuat dari kertas. Mainan itu
kelihatan menarik rafi yang dengan penasaran, hingga pandangannya tidak sedetikpun
terlepas dari mainan tersebut. Hingga dia tidak menyadari bahwa didepannya ada
sebuah gundukan pasir yang secara tidak sengaja membuatnya tersandung dan
jatuh. Maka seketikapun rafi menangis kesakitan karena terjatuh akibat
tersandung gundukan pasir. Sang ayah dan bunda mencoba menenangkan si rafi
kecil, tetapi menangisnya semakin kencang, hingga membuat nenek tua penjual
mainan itu kemudian merasa iba dan memberikan satu mainan kertas tersebut
kepada rafi kecil. “sudah nek, tidak usah, sebentar lagi juga rafi kecil akan
diam”. Sang ayah mencoba melarang sang nenek penjual memberikan mainannya. “tidak
apa-apa nak, ini saya berikan, tidak usah bayar, supaya dia senang dan berhenti
menangis” jawab nenek penjual mainan itu.
Secara tidak
diduga, rafi kecil seketika berhenti menangis, sambil memegangi mainan kertas
pemberian sang nenek tua tersebut. Ia mulai memandangi mainan tersebut hingga
ia lupa akan rasa sakit dikakinya yang ia rasakan karena tersandung gundukan
pasir tersebut.
Sang ayah tertegun
akan kejadian itu, ia tak menyangka sang nenek penjual mainan kertas akan
memberikan barang dagangannya hanya untuk menyenangkan anak kecil yang menangis
kesakitan. Sang ayah kemudian bertanya kepada rafi kecil. “Rafi, apakah engkau
senang mendapatkan mainan itu nak?, engkau merasa bahagia mempunyai mainan
kertas itu?”. Rafi kecil mengangguk, rupanya mainan yang sederhana itu bisa
membuatnya bahagia, bahkan mungkin melebihi ketika dia dibelikan mainan mewah
dengan harga yang mahal.
“Astagfirullah, aku
lupa, bukankah sang nenek telah memberikan sesuatu yang berharga kepada anakku…
aku harus membalasnya sekarang juga” kata sang ayah. Ia kemudian berlari dan
mencoba mencari nenek penjual mainan kertas tersebut, kesana kemari ia bertanya
kepada penjual yang lain tentang keberadaan sang nenek penjual mainan kertas
tersebut. Namun ia tidak dapati, seakan nenek penjual mainan kertas itu hilang
ditengah lalu lalang para pengunjung pantai nusa dua bali.
Sang ayah rafi
kemudian duduk termenung, ia berusaha menenangkan diri dan mencoba berdoa
supaya bisa dipertemukan dengan nenek penjual mainan kertas yang telah
memberikan kebahagiaan kepada anaknya.
Dan… “alhamdulillah,
itu dia”. Teriak sang ayah. Dikejauhan terlihat seorang Sang nenek penjual
mainan kertas terlihat menjajakan dagangannya kepada para pengunjung yang lain.
Maka bergegas sang ayah menghampirinya dan mengeluarkan sejumlah uang dan
memberikannya kepada sang nenek penjual mainan kertas tersebut. “nek, saya beli
mainan kertasnya ya, ini uangnya…” kata ayah rafi. “den, ini terlalu banyak uangnya,
semua barang dagangan saya tidak cukup untuk ditukar dengan uang ini…, lagian
untuk apa mainan sebanyak ini untuk anak aden… kata nenek penjual mainan
kertas. “nek saya membeli mainan ini bukan untuk saya atau anak saya, tapi
untuk nenek, apabila nenek mau, silahkan nenek berikan kepada anak-anak kecil
yang nenek ingin beri. Buatlah mainan kertas ini menjadi alat untuk menebarkan
kebahagiaan, seperti yang telah nenek lakukan untuk anak saya. Sekaligus saya,
istri dan anak saya ingin berterima kasih kepada nenek atas ketulusan yang
telah nenek berikan kepada kami, itulah pelajaran berharga bagi kami,
lebih-lebih bagi anak kami rafi. Saya tidak bisa membayangkan betapa bahagianya
dia ketika menerima mainan kertas tersebut dari nenek, mungkin mainan itu nilai
kecil apabila dinilai dengan rupiah, namun ketulusan yang telah nenek berikan,
telah membuat ia bagaikan termandikan oleh kasih sayang dan kebahagiaan,
sehingga membuat ia terlupa akan rasa sakitnya karena telah tersandung oleh
gundukan pasir tadi. Nek, anda telah membagi kebahagiaan itu kepada kami, karena
itu ijinkan kami memberikan kebahagiaan kepada nenek, sehingga kamipun bisa
merasakan kebahagiaan seperti kebahagiaan yang nenek rasakan saat memberi”. Pinta
ayah rafi.
Rafi, ayah dan
bunda bagaikan menemukan mutiara yang terserak. Mutiara yang telah membuat mereka
bahagia. yaitu mutiara ketulusan, mutiara keikhlasan dan mutiara kasih dan
sayang. Yang telah diberikan oleh seorang wanita tua penjual mainan kertas. Ia
tidak kaya, iapun juga tidak kelebihan harta untuk bisa dibagi-bagikan kepada
orang lain, namun dalam keadaan itu ia tetap ingin berbagi, ingin membahagiakan
orang lain. Ia telah mengajarkan arti kebahagiaan yang sederhana, namun sangat
penuh dengan makna.
Blog Post ini dibuat dalam rangka untuk mengikuti proyek menulis letter of happiness : share your happines with the bay bali & get discovered
Mei 2014
Redi Bintarto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar