Kamis, 20 Juni 2013

Penjual Gorengan




“Gorengan…gorengan…..” Seorang anak kecil dengan percaya diri menawarkan barang dagangannya yang berupa gorengan dengan bermacam-macam jenisnya. Mulai dari tempe goreng, tahu goreng, pisang goreng, jemblem dan lain sebagainya. Ia kayuh sepeda bututnya memasuki kampus Politeknik Kota Malang dan kemudian ia tengok kekanan dan kekiri mencari kerumunan mahasiswa dengan penuh harap bahwa akan ada beberapa mahasiswa yang akan tertarik untuk membeli gorengan dagangannya hingga habis.
Tak jarang bibirnya tersenyum ketika ia mendapati sekelompok mahasiswa Poltekom yang sedang mengobrol ataupun browsing internet didalam kampus. Secepatnya pula ia dekati kelompok mahasiswa tersebut dan menawarkan gorengan yang ia bawa. Beberapa mahasiswa dan mahasiswipun mulai mengerumuninya dan membeli dagangannya.
Memang karena tidak begitu profesional, terkadang tas plastik yang ia bawa tidak mencukupi untuk bungkus gorengan jualannya. Maka para pembelipun harus rela mencari bungkus sendiri untuk membungkus gorengan yang telah ia beli. Namun itu tidak menjadi masalah bagi para pembeli, bahkan beberapa memberikan komentar dengan candaan “tidak pake bungkus potong harga”. Namun sang penjual cilik tertawa terbahak tanpa tersindir atau marah sedikitpun, seolah tidak ada beban  baginya tentang candaan itu, yang dia pikirkan adalah bagaimana menjual barang dagangannya sampai habis, serta harapan yang indah yang kelak ia dapatkan dari pengalaman hari itu dikemudian hari.
Pemandangan yang sangat indah ini syarat dengan hikmah yang luar biasa. Teringat bagaimana seorang teman yang saat ini sedang menjabat sebagai seorang manager di Sebuah Bank  Nasional sekaligus seorang pengusaha di daerah madiun pernah bercerita bahwa semasa kecil beliau adalah seorang penjual sedotan dan mainan anak-anak yang sedang musim pada saat itu. Dan pengalaman itu yang mengantarkan ia menjadi seorang yang dipercaya oleh orang lain. Pengalaman itu pula yang membuat ia mampu mengatur keuangan, mencari suplier dan pembeli serta mengatur segala aktivitas bisnis yang saat ini sedang ia jalankan.
Teringat pula bagaimana seorang “Mario teguh”, seorang motivator handal yang telah menjadi motivator tingkat internasional ternyata dimulai dari berjualan makanan murah pada saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Jikalau negara indonesia memiliki lima persen saja penduduk yang mempunyai jiwa besar seperti mereka, dan salah satunya menjadi pemimpin di negeri yang kaya ini, maka Indonesia tidak perlu lagi menjadi “boneka” bagi negara-negara barat yang telah menguras kekayaan alam Indonesia. BBM tidak perlu naik, karena memang sebenarnya kekayaan alam adalah milik rakyat. Pemimpin tidak perlu repot mencari kekayaan karena hidupnya telah dijamin oleh negara. Rakyat tidak perlu mengemis karena kebutuhan dasar mereka telah tercukupi dari hasil pengolahan dan pengaturan hasil bumi yang ada.
Maka semangat intrepeneur bagi rakyat Indonesia harus segera dibentuk. Jiwa yang besar, keberanian yang terarah, perjuangan dan pengorbanan rakyat harus dibentuk untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang berdaulat. Tidak hanya berdaulat dalam masalah pangan, tetapi juga ekonomi, energi dan politik.
Sang penjual gorengan cilik adalah seorang motivator handal yang sedang menunjukkan “praktek” berwirausaha terhadap para mahasiswa dan semua yang melihatnya. Ia tidak hanya sekedar guru atau dosen, tetapi dialah yang sebenarnya seorang pendidik, yang sedang memberikan pelajaran hidup dan memulai sebuah bisnis. Ia pula yang menunjukkan kepada semua elemen masyarakat tentang keberadaan laboratorium entrepeneurship yang luar biasa luasnya. Seolah-olah Ia sedang memberikan  nasehat kepada seluruh masyarakat, bahwa untuk menjadi jiwa yang besar, maka harus dimulai dari latihan kecil, kesuksesan besar dimulai dari perjuangan-perjuangan kecil, dan kebahagiaan yang besarpun dimulai dari pengorbanan-pengorbanan yang kecil.
Mari kita lihat bersama, sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, akan jadi apa sang intrepeneur, penjual gorengan kecil di Kampus Poltekom ini, tapi yang harus kita yakini, ia akan menjadi orang besar, yang mungkin tidak hanya seorang penjual gorengan, tetapi juga seorang pemilik perusahaan penyedian peralatan pembuat gorengan, yang dapat menghidupi dirinya sendiri, sekaligus juga membantu para saudara, tetangga, masyarakat indonesia bahkan masyarakat dunia. Amien…
Bangkitlah Indonesiaku….!!!

Juni 2013
Redi Bintarto - Poltekom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar