Rabu, 16 April 2014

Mutiara yang Terserak





 “Ayah, apakah makna kebahagiaan…?”, tanya rafi, seorang anak umur 4 tahun  yang mencoba memahami cerita dan nasehat sang ayah dengan kemampuannya, yang pada saat itu sedang bercerita tentang temannya yang telah sukses dalam berbisnis dan hidup bahagia bersama keluarganya. Sang ayah sedikit mengernyitkan dahi dan mencoba mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan anaknya yang masih kecil tersebut. “Rafi, kebahagiaan adalah sesuatu yang sulit untuk dilihat, tetapi dapat dirasakan, tidak hanya untuk orang kaya dan berada namun untuk semua orang yang mempunyai rasa syukur dihatinya”. Jawab sang ayah dengan bijak. “lalu syukur itu apa ayah…?” tanya rafi kecil penasaran. “syukur itu, klo kita diberi sesuatu oleh Tuhan Yang Maha Esa maka kita harus berterima kasih kepada Tuhan. Kita mengucap hamdalah, lalu kita gunakan sesutu itu dengan baik dan benar, misalnya untuk menolong saudara, membantu teman dan sebagainya”. Jawab sang ayah mencoba menjelaskan secara ringan. “ooo… gitu ya yah” jawab rafi kecil. Rafi lalu mengangguk-angguk tanda setuju dengan jawaban sang ayah seakan mengerti. Rafipun lalu melanjutkan bertanya kepada sang ayah dengan pertanyaan-pertanyaan ringan sambil menikmati pemandangan disekitar pantai Nusa Dua Bali. Jam tangan sang ayah menunjukkan pukul 10 malam, lalu sang ayah mengajak anaknya tersebut untuk memasuki salah satu kamar di The pirates bay.  
Pagipun menjelang, ayah, bunda dan rafi kemudian tidak menyia-nyiakan waktunya untuk menikmati indahnya pemandangan pagi di pantai Nusa Dua Bali. Merekapun tidak melewatkan berjalan-jalan disekitar The Bay Bali. Sesekali rafi bertanya kepada sang ayah tentang keadaan sekitar, tentang perilaku orang yang ditemui dan barang-barang yang ia lihat sepanjang perjalanan.
“Oleh-oleh…..oleh-oleh, mainan untuk anaknya den..” Seorang nenek berjalan mengikuti keluarga kecil tersebut dengan menyodorkan mainan anak-anak yang terbuat dari kertas. Mainan itu kelihatan menarik rafi yang dengan penasaran, hingga pandangannya tidak sedetikpun terlepas dari mainan tersebut. Hingga dia tidak menyadari bahwa didepannya ada sebuah gundukan pasir yang secara tidak sengaja membuatnya tersandung dan jatuh. Maka seketikapun rafi menangis kesakitan karena terjatuh akibat tersandung gundukan pasir. Sang ayah dan bunda mencoba menenangkan si rafi kecil, tetapi menangisnya semakin kencang, hingga membuat nenek tua penjual mainan itu kemudian merasa iba dan memberikan satu mainan kertas tersebut kepada rafi kecil. “sudah nek, tidak usah, sebentar lagi juga rafi kecil akan diam”. Sang ayah mencoba melarang sang nenek penjual memberikan mainannya. “tidak apa-apa nak, ini saya berikan, tidak usah bayar, supaya dia senang dan berhenti menangis” jawab nenek penjual mainan itu.
Secara tidak diduga, rafi kecil seketika berhenti menangis, sambil memegangi mainan kertas pemberian sang nenek tua tersebut. Ia mulai memandangi mainan tersebut hingga ia lupa akan rasa sakit dikakinya yang ia rasakan karena tersandung gundukan pasir tersebut.
Sang ayah tertegun akan kejadian itu, ia tak menyangka sang nenek penjual mainan kertas akan memberikan barang dagangannya hanya untuk menyenangkan anak kecil yang menangis kesakitan. Sang ayah kemudian bertanya kepada rafi kecil. “Rafi, apakah engkau senang mendapatkan mainan itu nak?, engkau merasa bahagia mempunyai mainan kertas itu?”. Rafi kecil mengangguk, rupanya mainan yang sederhana itu bisa membuatnya bahagia, bahkan mungkin melebihi ketika dia dibelikan mainan mewah dengan harga yang mahal.
“Astagfirullah, aku lupa, bukankah sang nenek telah memberikan sesuatu yang berharga kepada anakku… aku harus membalasnya sekarang juga” kata sang ayah. Ia kemudian berlari dan mencoba mencari nenek penjual mainan kertas tersebut, kesana kemari ia bertanya kepada penjual yang lain tentang keberadaan sang nenek penjual mainan kertas tersebut. Namun ia tidak dapati, seakan nenek penjual mainan kertas itu hilang ditengah lalu lalang para pengunjung pantai nusa dua bali.
Sang ayah rafi kemudian duduk termenung, ia berusaha menenangkan diri dan mencoba berdoa supaya bisa dipertemukan dengan nenek penjual mainan kertas yang telah memberikan kebahagiaan kepada anaknya.
Dan… “alhamdulillah, itu dia”. Teriak sang ayah. Dikejauhan terlihat seorang Sang nenek penjual mainan kertas terlihat menjajakan dagangannya kepada para pengunjung yang lain. Maka bergegas sang ayah menghampirinya dan mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya kepada sang nenek penjual mainan kertas tersebut. “nek, saya beli mainan kertasnya ya, ini uangnya…” kata  ayah rafi. “den, ini terlalu banyak uangnya, semua barang dagangan saya tidak cukup untuk ditukar dengan uang ini…, lagian untuk apa mainan sebanyak ini untuk anak aden… kata nenek penjual mainan kertas. “nek saya membeli mainan ini bukan untuk saya atau anak saya, tapi untuk nenek, apabila nenek mau, silahkan nenek berikan kepada anak-anak kecil yang nenek ingin beri. Buatlah mainan kertas ini menjadi alat untuk menebarkan kebahagiaan, seperti yang telah nenek lakukan untuk anak saya. Sekaligus saya, istri dan anak saya ingin berterima kasih kepada nenek atas ketulusan yang telah nenek berikan kepada kami, itulah pelajaran berharga bagi kami, lebih-lebih bagi anak kami rafi. Saya tidak bisa membayangkan betapa bahagianya dia ketika menerima mainan kertas tersebut dari nenek, mungkin mainan itu nilai kecil apabila dinilai dengan rupiah, namun ketulusan yang telah nenek berikan, telah membuat ia bagaikan termandikan oleh kasih sayang dan kebahagiaan, sehingga membuat ia terlupa akan rasa sakitnya karena telah tersandung oleh gundukan pasir tadi. Nek, anda telah membagi kebahagiaan itu kepada kami, karena itu ijinkan kami memberikan kebahagiaan kepada nenek, sehingga kamipun bisa merasakan kebahagiaan seperti kebahagiaan yang nenek rasakan saat memberi”. Pinta ayah rafi.
Rafi, ayah dan bunda bagaikan menemukan mutiara yang terserak. Mutiara yang telah membuat mereka bahagia. yaitu mutiara ketulusan, mutiara keikhlasan dan mutiara kasih dan sayang. Yang telah diberikan oleh seorang wanita tua penjual mainan kertas. Ia tidak kaya, iapun juga tidak kelebihan harta untuk bisa dibagi-bagikan kepada orang lain, namun dalam keadaan itu ia tetap ingin berbagi, ingin membahagiakan orang lain. Ia telah mengajarkan arti kebahagiaan yang sederhana, namun sangat penuh dengan makna.


Blog Post ini dibuat dalam rangka untuk mengikuti proyek menulis letter of happiness : share your happines with the bay bali & get discovered
Mei 2014
Redi Bintarto

Kamis, 23 Januari 2014

Menggapai Matahari


Matahari akan ada selalu dilangit, sulit dijangkau, apalagi disentuh. namun bagaimana jika tetapi ternyata matahari dapat disentuh dengan jari sesuai dengan foto diatas.
memang itu hanyalah foto, namun ketika kita memandang itu dengan sudut pandang yang lain, maka itu akan menjadi karya yang luar biasa, sesuatu yang tidak mungkin terjadi menurut akal, akan sangat mungkin apabila Alloh SWT menghendaki itu terjadi.

Sesuatu kegagalan pasti akan membuat kita stress atau tidak bersemangat, tetapi hal ini akan menjadi lain ketika kita memandangnya dengan persepsi yang berbeda. Kita akan selalu dapat mendapatkan yang terbaik, asalkan kita selalu dalam aturan dan SyariatNya.
Mari memandang permasalahan dengan suatu ujian yang pasti akan mampu kita selesaikan dengan pertolonganNya. Amien...