“Gorengan…gorengan…..” Seorang anak kecil
dengan percaya diri menawarkan barang dagangannya yang berupa gorengan dengan
bermacam-macam jenisnya. Mulai dari tempe goreng, tahu goreng, pisang goreng,
jemblem dan lain sebagainya. Ia kayuh sepeda bututnya memasuki kampus
Politeknik Kota Malang dan kemudian ia tengok kekanan dan kekiri mencari
kerumunan mahasiswa dengan penuh harap bahwa akan ada beberapa mahasiswa yang
akan tertarik untuk membeli gorengan dagangannya hingga habis.
Tak jarang bibirnya tersenyum ketika ia
mendapati sekelompok mahasiswa Poltekom yang sedang mengobrol ataupun browsing internet
didalam kampus. Secepatnya pula ia dekati kelompok mahasiswa tersebut dan
menawarkan gorengan yang ia bawa. Beberapa mahasiswa dan mahasiswipun mulai
mengerumuninya dan membeli dagangannya.
Memang karena tidak begitu profesional,
terkadang tas plastik yang ia bawa tidak mencukupi untuk bungkus gorengan
jualannya. Maka para pembelipun harus rela mencari bungkus sendiri untuk
membungkus gorengan yang telah ia beli. Namun itu tidak menjadi masalah bagi
para pembeli, bahkan beberapa memberikan komentar dengan candaan “tidak pake
bungkus potong harga”. Namun sang penjual cilik tertawa terbahak tanpa
tersindir atau marah sedikitpun, seolah tidak ada beban baginya tentang candaan itu, yang dia
pikirkan adalah bagaimana menjual barang dagangannya sampai habis, serta harapan
yang indah yang kelak ia dapatkan dari pengalaman hari itu dikemudian hari.
Pemandangan yang sangat indah ini syarat
dengan hikmah yang luar biasa. Teringat bagaimana seorang teman yang saat ini
sedang menjabat sebagai seorang manager di Sebuah Bank Nasional sekaligus seorang pengusaha di
daerah madiun pernah bercerita bahwa semasa kecil beliau adalah seorang penjual
sedotan dan mainan anak-anak yang sedang musim pada saat itu. Dan pengalaman
itu yang mengantarkan ia menjadi seorang yang dipercaya oleh orang lain.
Pengalaman itu pula yang membuat ia mampu mengatur keuangan, mencari suplier
dan pembeli serta mengatur segala aktivitas bisnis yang saat ini sedang ia jalankan.
Teringat pula bagaimana seorang “Mario
teguh”, seorang motivator handal yang telah menjadi motivator tingkat
internasional ternyata dimulai dari berjualan makanan murah pada saat ia masih
duduk di bangku sekolah dasar.
Jikalau negara indonesia memiliki lima
persen saja penduduk yang mempunyai jiwa besar seperti mereka, dan salah
satunya menjadi pemimpin di negeri yang kaya ini, maka Indonesia tidak perlu
lagi menjadi “boneka” bagi negara-negara barat yang telah menguras kekayaan
alam Indonesia. BBM tidak perlu naik, karena memang sebenarnya kekayaan alam
adalah milik rakyat. Pemimpin tidak perlu repot mencari kekayaan karena
hidupnya telah dijamin oleh negara. Rakyat tidak perlu mengemis karena
kebutuhan dasar mereka telah tercukupi dari hasil pengolahan dan pengaturan
hasil bumi yang ada.
Maka semangat intrepeneur bagi rakyat
Indonesia harus segera dibentuk. Jiwa yang besar, keberanian yang terarah,
perjuangan dan pengorbanan rakyat harus dibentuk untuk menjadikan Indonesia
menjadi negara yang berdaulat. Tidak hanya berdaulat dalam masalah pangan,
tetapi juga ekonomi, energi dan politik.
Sang penjual gorengan cilik adalah seorang
motivator handal yang sedang menunjukkan “praktek” berwirausaha terhadap para mahasiswa
dan semua yang melihatnya. Ia tidak hanya sekedar guru atau dosen, tetapi
dialah yang sebenarnya seorang pendidik, yang sedang memberikan pelajaran hidup
dan memulai sebuah bisnis. Ia pula yang menunjukkan kepada semua elemen
masyarakat tentang keberadaan laboratorium entrepeneurship yang luar biasa
luasnya. Seolah-olah Ia sedang memberikan nasehat kepada seluruh masyarakat, bahwa untuk
menjadi jiwa yang besar, maka harus dimulai dari latihan kecil, kesuksesan
besar dimulai dari perjuangan-perjuangan kecil, dan kebahagiaan yang besarpun
dimulai dari pengorbanan-pengorbanan yang kecil.
Mari kita lihat bersama, sepuluh atau dua
puluh tahun mendatang, akan jadi apa sang intrepeneur, penjual gorengan kecil
di Kampus Poltekom ini, tapi yang harus kita yakini, ia akan menjadi orang
besar, yang mungkin tidak hanya seorang penjual gorengan, tetapi juga seorang
pemilik perusahaan penyedian peralatan pembuat gorengan, yang dapat menghidupi
dirinya sendiri, sekaligus juga membantu para saudara, tetangga, masyarakat
indonesia bahkan masyarakat dunia. Amien…
Bangkitlah Indonesiaku….!!!
Juni 2013
Redi Bintarto - Poltekom
